Minggu, 01 Januari 2017

Menjadikan kematian sebagai tujuan hidup

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Seorang bapak bertanya kepada anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, "Nak, kalau besar mau jadi apa?" "Dokter pak!!" Spontan anak itu menjawabnya... Anak yang lain mungkin menjawab "jadi polisi", "jadi orang kaya" dan lain-lain. Hal tersebut wajar dan memang seharusnya itulah yang harus mereka jawab, sebab setiap orang harus mempunyai sebuah cita-cita , sebuah tujuan hidup, sebuah angan-angan kelak di masa depan. Biarkanlah anak hidup mengejar mimpinya..

Tapi, akankah kita membiarkan anak hidup hanya sebatas mengejar cita-cita saja? TIDAK !! Ada satu hal yang maha penting untuk kita lekatkan di hati dan pikiran anak dan keluarga kita, bahwa dunia ini hanyalah fatamorgana, dunia ini fana, tidak kekal, bahwa akan ada kehidupan selanjutnya yang bernama akhirat, bahwa akan ada pintu masuk ke dunia selanjutnya yang kita sebut sebagai KEMATIAN.



Kematian merupakan kepastian, tak satu pun makhluk benyawa yang luput darinya, karena Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan,

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (Ali Imran: 185)

Kematian pun telah ditentukan waktunya atas setiap jiwa, masing-masingnya memiliki ajal.

“Dialah yang menciptakan kalian dari tanah, kemudian Dia menetapkan dan menentukan ajal (waktu tertentu untuk kematian)….” (al-An’am: 2)

Saat Nabi ditanya, “Ya Rasul, siapakah orang mukmin yang paling cerdas? Nabi menjawab, “Mereka yang sering mengingat mati dan (tekun) mempersiapkan diri menghadapi kematian. Mereka pergi dengan kelegaan dunia dan kemuliaan akhirat.”

Mungkin agak tidak lazim jikalau kita kemudian menjadikan kematian atau mati sebagai tujuan hidup kita. Ah, sepasrah itukah hidup seorang Muslim, hanya berpikir tentang mati, Anda tidak mau kaya, sukses, atau menjadi orang terpandang sebelum mati?

Anda salah, karena dengan mengingat kematian justru kita bisa melakoninya sambil menjadi seorang pejabat tinggi, seorang pengusaha sukses atau yang lain. 

Bagaimana bisa anda shalat dengan baik, sementara anda tidak mempunyai uang untuk membeli baju yang layak untuk dikenakan saat anda shalat?

Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al A’raf: 31).

Pakailah pakaian terbaik yang anda punyai untuk memasuki mesjid dan melaksanakan shalat, yang mana ada aturan sendiri untuk jenis pakaian yang boleh dipakai beribadah shalat. Logikanya, kita hanya bisa mempunyai pakaian yang terbaik, yang pantas dan sesuai aturan tata cara berpakaian dalam Islam, jika kita memiliki uang yang cukup untuk membelinya. 

Anda ingin melakukan sedekah atau menunaikan zakat? Apa yang bisa anda sedekahkan jika anda sendiri tidak memiliki harta? Meskipun tidak harus menjadi kaya untuk bersedekah, tetapi tentu anda setidaknya memiliki sesuatu untuk disedekahkan bukan? Apalagi untuk berzakat dan berkurban, dibutuhkan syarat tertentu untuk bisa dikenakan zakat.

Ada yang lebih berat lagi, yaitu berhaji ke tanah suci Makkah bila telah mampu. Nah yang ini syaratnya jelas harus mampu lahir dan bathin, dan sudah mendapat panggilan Allah SWT untuk melaksanakannya. Tidak mungkin bagi kita, khususnya kaum Muslimin yang berjarak sangat jauh dari kota Makkah untuk beribadah haji tanpa memiliki harta yang cukup, meskipun ada beberapa kasus seseorang naik haji cuma bermodal panggilan dari Allah, tiba-tiba mendapat durian runtuh diberangkatkan haji oleh orang lain atau suatu organisasi lain, itu di luar kuasa kita sebagai manusia tentunya.

Intinya, Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu mengingat kematian, dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Persiapan ini bukan hanya sekedar beribadah wajib seperti shalat, tapi kumpulkanlah pundi-pundi amal dengan amalan-amalan lain, termasuk menjadikan diri kita kaya raya agar bisa berderma dengan kekayaan itu.

Jadi, mengingat kematian haruslah menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian waktu kehidupan yang dijalani. Mengingat kematian tidak hanya sekedar mengingat, namun harus diikuti dengan amalan yang terus menerus dan sungguh-sungguh. Amalan untuk mempersiapkan kehidupan abadi di akhirat, yang hanya memiliki dua tempat yakni kebahagiaan (surga) dan penderiaan (neraka).

Nabi bersabda Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian)”.

Dalam hadits lain nabi bersabda, ” Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu."

Kematian adalah suatu keniscayaan. Cara kita mati adalah suatu keputusan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar